Melung 18 Agustus 2015, tanaman kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat, mulai dari ujung daun sampai ujung akarnya dapat dimanfaatkan. Tanaman kelapa ini dapat menghasilkan nira yang akan dijadikan gula yang sering disebut gula merah cetak. Melung merupakan salah satu desa yang berpotensial memproduksi gula merah cetak.
Gula merah cetak merupakan salah satu mata pencaharian warga Melung khususnya warga RW 04 Salarendeng, Melung. Salah satu warga yang memproduksi gula merah cetak yaitu Bapak Daryanto RT 02/04 Salarendeng, Melung. Meskipun sudah berusia lanjut, Bapak Daryanto masih dapat menderes dan memproduksi gula merah cetak untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Dalam sehari, Bapak Daryanto dapat memproduksi gula merah cetak sebanyak 8 kg. Biasanya Bapak Daryanto menjual gula merah cetak ini, dengan harga Rp 9.500/kg.
Sebenarnya, gula merah cetak ini masih dapat dilakukan pengolahan yang lebih lanjut lagi yang akan menghasilkan harga yang cukup tinggi yaitu gula kristal. Dengan harga yang tinggi, maka penghasilan petani gula merah cetak akan meningkat. Gula kristal merupakan gula merah cetak versi bubuk. Gula kristal ini juga sering disebut gula semut. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yg bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula kristal adalah nira dari pohon kelapa sama halnya dalam pembuatan gula merah cetak.
Harga pasar gula kristal lebih tinggi dibandingkan gula cetak, yaitu dipasarkan dengan harga Rp 12.000/kg. Namun di Desa Melung belum ada yang memproduksi gula kristal. Dalam upaya membantu meningkatkan penghasilan petani gula kelapa, tim KKN PPM Pertanian Terpadu UNSOED melakukan demonstrasi pembuatan gula kristal. Tim tersebut telah melakukan demonstrasi di beberapa rumah penderes yaitu di Rumah Bapak Daryanto RT 02/04 dan Rumah Bapak Sis RT 03/04. Pembuatan gula kristal membutuhkan tingkat kerajinan yang tinggi dibandingkan dengan pembuatan gula merah cetak. Pembuatan gula kristal harus melalui tahapan penggerusan atau penghalusan, pengayakan, dan penjemuran. Dengan adanya demonstrasi pembuatan gula kristal yang telah dilakukan tim KKN PPM Pertanian Terpadu UNSOED, diharapkan petani gula kelapa dapat memproduksi gula kristal guna meningkatkan penghasilan.
Penggunaan tungku dalam proses pemasakan gula merupakan komponen utama. Proses pemasakan gula yang memakan waktu lama membuat perajin gula harus menyediakan bahan bakar yang cukup banyak, untuk dapat menyalakan tungku mereka. Oleh karena itu, penggunaan tungku hemat energi merupakan kebutuhan utama untuk mengurangi bahan bakar dalam proses pemasakan gula. Perajin gula kelapa di Desa Melung sebagian besar menggunakan tungku tradisional, Tungku tradisional yang digunakan masih mengakibatkan polusi udara di dapur dan mengganggu pernafasan. Penggunaan tungku sehat dan hemat energi dapat mengurangi hal tersebut. Inisiatif tungku sehat dan hemat energi yang digagas dalam program kerja KKN PPM Unsoed Pertanian Terpadu diharapkan dapat membantu perajin gula kelapa.
Tanggal 13 Agustus 2015 KKN Unsoed Pertanian Terpadu melakukan demonstrasi plot di rumah Bapak Ngalimi Warga Desa Melung RT 01 RW 04. Adanya demonstrasi plot ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana perbandinganya dengan tungku tradisonal. Selama ini perajin gula di desa Melung memasak gula menggunakan tungku tradisional yang menyebabkan polusi asap. Oleh karena itu pemberian pengetahuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memiliki tungku yang sehat di dapur.
Tungku ini dirancang untuk dapat membakar bahan bakar dengan efisien, menghasilkan panas yang tinggi dan tidak menimbulkan polusi udara di dapur mereka. Tungku menghasilkan panas yang terpusat langsung ke wajan, sehingga tidak ada api yang terbuang keluar, untuk proses pembuangan asap terpusat pada cerobong yang terpasang mengarah ke luar dapur, sehingga asap langsung terbuang ke luar.
Situs Batur Macan terletak di Dukuh Kaliputra, Desa Melung, ditengah-tengah areal perkemahan Perhutani.
Dinamakan situs Batur Macan menurut cerita masyarakat setempat, situs tersebut pinggirannya terdapat tumpukan batu yang menyerupai pondasi (batur dalam bahasa Jawa) dan sering dijumpai adanya seekor harimau (macan) di sekitar lokasi tersebut, bahkan situs tersebut dianggapnya sebagai kuburan harimau (macan).
Sebenarnya situs tersebut merupakan punden berundak yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang pada masa prasejarah yang berorientasi ke arah utara dan selatan dengan mengagungkan gunung Slamet yang dianggapnya sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang. Di sekitar situs tersebut tepatnya di sebelah timur terdapat aliran sungai yang digunakan sebagai tempat bersuci pada masa prasejarah, sebelum memasuki tempat pemujaan arwah nenek moyang. Peninggalan yang terdapat di lokasi situs tesebut antara lain tatanan batu yang berfungsi sebagai altar persembahan sesaji kepada arwah nenek moyang dan dua buah batu menhir besar dan kecil dengan bahan dasar batu andesit, batu menhir yang besar berukuran tinggi 37 cm, garis tengah 20 cm, sedangkan batu menhir yang kecil berukuran tinggi 23 cm, garis tengah 20 cm. Batu menhir tersebut berfungsi sebagi sarana ritual dan dianggapnya sebgai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Luas situs secara keseluruhan panjang 6 m dan lebar 5,8 m, sedangkan luas areal sekitar situs panjang 15 m dan lebar 10,5 m. Lokasi situs tersebut berada pada kertinggian 700 m dari permukaan laut. Pengelolaan pemeliharaan situs tersebut dilakukan oleh mantri hutan Perhutani. Kondisi situs masih asli dan terawat.
Melung 19 Agustus 2015, Tanaman kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat, mulai dari ujung daun sampai akarnya dapat dimanfaatkan. Tanaman kelapa ini dapat menghasilkan nira yang akan dijadikan gula yang sering disebut gula merah cetak. Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas merupakan salah satu desa yang berpotensial memproduksi gula merah cetak.
Gula merah cetak merupakan salah satu mata pencaharian warga Desa Melung khususnya warga RW 04 Salarendeng. Salah satu warga yang memproduksi gula merah cetak adalah Daryanto (52). Meskipun sudah berusia lanjut, Daryanto masih dapat menderes dan memproduksi gula merah cetak untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Dalam sehari, Daryanto dapat memproduksi gula merah cetak sebanyak 8 kg. Biasanya gula merah cetak ini dihargai Rp 9.500/kg.
Sebenarnya, gula merah cetak ini masih dapat dilakukan pengolahan yang lebih lanjut lagi yang akan menghasilkan harga yang cukup tinggi yaitu gula kristal. Dengan harga yang tinggi, maka penghasilan petani gula merah cetak akan meningkat. Gula kristal merupakan gula merah cetak versi bubuk. Gula kristal ini juga sering disebut gula semut. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yg bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula kristal adalah nira dari pohon kelapa sama halnya dalam pembuatan gula merah cetak.
Harga pasar gula kristal lebih tinggi dibandingkan gula cetak, yaitu dipasarkan dengan harga Rp 12.000/kg. Namun di Desa Melung belum ada yang memproduksi gula kristal. Dalam upaya membantu meningkatkan penghasilan petani gula kelapa, tim KKN PPM Pertanian Terpadu UNSOED melakukan demonstrasi pembuatan gula kristal. Tim tersebut telah melakukan demonstrasi di beberapa rumah penderes yaitu di Rumah Daryanto RT 02/04 dan Rumah Siswanto warga RT 03/04. Pembuatan gula kristal membutuhkan tingkat kerajinan yang tinggi dibandingkan dengan pembuatan gula merah cetak. Pembuatan gula kristal harus melalui tahapan penggerusan atau penghalusan, pengayakan, dan penjemuran. Dengan adanya demonstrasi pembuatan gula kristal yang telah dilakukan tim KKN PPM Pertanian Terpadu UNSOED, diharapkan petani gula kelapa dapat memproduksi gula kristal guna meningkatkan penghasilan.
Ditemui di lahan pertaniannya, Edi Sudarno dan Ratinem, istrinya, warga RT 02 RW 04 berbincang mengenai pertaniannya. Ya, Edi dan istrinya adalah salah satu dari sekian banyak petani sayur organik yang ada di Desa Melung yang tetap konsisten dengan pertanian … Continue reading → DESA MELUNG