Sistem Informasi Desa Melung
Kabut turun pelan di Hutan Desa Melung. Pagi belum
sepenuhnya bangun ketika Nasrul (bukan nama sebenarnya) dan dua
kawannya, Rendi dan Ucup, sudah menyusuri jalan setapak menuju blok Curug
Penganten.
Curug Penganten terletak di sisi
barat Desa Melung, tersembunyi di balik punggung bukit yang ditumbuhi damar dan
puspa tua. Untuk mencapainya, orang harus melalui Kalipagu, Desa ketenger.
Biasanya motor dititip disana kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak
selebar bahu orang dewasa, menembus kebun kopi warga, lalu masuk ke hutan yang
kian rapat dan lembap. Sekitar satu jam perjalanan dari Kalipagu, suara gemuruh
air mulai terdengar samar seperti angin yang terperangkap, lalu membesar
menjadi deru yang memenuhi dada.
Di punggung mereka tergantung gulungan jaring halus
berwarna kusam. Di tangan Nasrul, sebatang bambu panjang dengan ujung yang
telah diolesi pulut lem kental berwarna kecokelatan, lengket seperti rahasia
yang tak mudah dilepaskan.
“Cepat sebelum matahari tinggi,” bisik Rendi.
“Kalau terlalu terang, burung makin waspada.”
Nasrul mengangguk. Ia hafal betul jam biologis
hutan. Burung-burung keluar mencari makan saat udara masih sejuk. Di situlah
kesempatan terbuka.
Mereka tiba di sebuah pohon Damar tua. Cabangnya
rendah dan melebar, tempat favorit cucak gunung bertengger. Ucup membuka botol
kecil berisi pulut tambahan.
“Masih segar. Semalam baru dimasak,” katanya
bangga. Pulut itu dibuat dari getah pohon yang direbus lama, dicampur bahan
lain agar daya lekatnya kuat.
Nasrul memanjat pelan. Dengan hati-hati ia
mengoleskan pulut di beberapa ranting kecil yang biasa jadi pijakan burung. Di
antara dua batang pohon, Rendi membentangkan jaring tipis hampir tak terlihat.
“Kalau dia lolos dari pulut, kena jaring,” gumam
Rendi.
Mereka lalu bersembunyi di balik semak. Hutan mulai
bersuara. Serangga berdengung, daun bergesek pelan. Lalu terdengar itu kicau
khas cucak gunung, jernih dan naik turun seperti seruling bambu.
Nasrul menahan napas.
Seekor burung kecil dengan dada kekuningan hinggap
di cabang yang sudah diolesi pulut. Satu detik. Dua detik. Lalu ia meloncat dan
kakinya menempel.
Burung itu mengepak panik.
“Dapat!” bisik Ucup tertahan.
Nasrul bergegas memanjat lagi. Tangannya cekatan
memegang tubuh kecil yang masih meronta. Sayapnya terlapisi pulut, bulu-bulunya
saling menempel.
“Tenang… tenang…” gumam Nasrul, lebih pada dirinya
sendiri.
Ia memasukkan burung itu ke dalam kantong kain.
Satu tangkapan pagi itu. Lalu dua. Lalu tiga.
Setiap kali ada kepakan panik, ada sesuatu yang
ikut bergetar di dada Nasrul. Namun ia menepisnya.
“Hanya ini cara bertahan hidup untuk istri dan anak
saya” gumamnya.
Malam harinya, Balai Desa
Melung tampak ramai. Spanduk bertuliskan “Musyawarah Penyusunan
Kesepakatan Pelestarian Alam Desa” terpampang jelas di dinding aula.
Pemerintah Desa Melung sengaja menyelenggarakan musyawarah pada malam hari agar
warga dapat hadir, mengingat sebagian besar masyarakat memiliki aktivitas pada
siang hari.
Malam itu, Nasrul
datang terlambat, masih terbayang burung-burung di kantong kainnya yang kini
sudah diserahkan ke pengepul.
Kepala Desa Melung, Khoerudin, S.Sos membuka rapat
dengan suara berat, namun tegas.
“Kita punya potensi besar. Hutan, sumber
air, dan burung endemik. Tapi juga ada tekanan ekonomi. Kita perlu aturan yang
adil.”
“Malam ini kita perlu menyusun Kesepakatan
Pelestarian Alam Desa ini sebagai upaya untuk mengurangi ancaman perburuan di
Desa Melung” ujar Pak Heru, panggilan akrab Kades Melung.
Di barisan depan, Deta, Staf Burung Indonesia memaparkan
data. Dalam paparannya ia menyampaikan jika Desa Melung memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, baik
dari flora maupun fauna, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan
ekosistem serta mendukung perekonomian masyarakat. Tutupan lahan kebun
campuran, hutan desa, dan hutan lindung menjadi habitat bagi berbagai jenis
tumbuhan dan satwa liar.
Jenis flora yang banyak dijumpai antara lain kopi, kapulaga, durian,
alpukat, manggis, cengkeh, bambu, aren, puspa, serta berbagai tanaman buah dan
tanaman obat. Komoditas tersebut tidak hanya berfungsi secara ekologis sebagai
penutup lahan dan penyimpan air, tetapi juga menjadi sumber pendapatan
masyarakat melalui pertanian, perkebunan, dan usaha mikro berbasis hasil hutan
bukan kayu.
Dari aspek fauna, wilayah Desa Melung masih menjadi habitat bagi berbagai jenis burung, mamalia, dan satwa lain, termasuk beberapa jenis satwa dilindungi dan endemik seperti elang jawa, poksai kuda, sulingan, cucak gunung, wergan jawa, lutung, owa jawa, serta satwa hutan lainnya yang hidup di kawasan Hutan Desa Melung.
“Berdasarkan hasil kegiatan Pemantauan Layanan Alam
(PLA) yang dilaksanakan bersama warga dan pemuda pemudi Desa Melung selama
tahun 2025 menunjukan populasi beberapa jenis burung di sekitar Gunung Slamet
menurun. Praktik perburuan dengan pulut dan jaring termasuk yang paling
merusak, karena menangkap apa saja tanpa seleksi.” Jelas Deta.
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Darso, pengepul burung, berdiri.
“Jangan menyalahkan kami saja. Banyak keluarga bergantung dari ini. Mau diganti
apa, mereka mau makan apa?”
Nasrul duduk kaku. Kata pulut seperti
ditujukan langsung padanya.
Bu Suryati mengangkat tangan.
“Anak-anak kita belajar tentang elang jawa dan cucak gunung sebagai kebanggaan
desa. Tapi kalau tiap hari ditangkap, apa yang tersisa?”
Pak Darso menoleh ke arah Nasrul.
“Nasrul, kamu yang paling aktif di hutan. Cerita saja. Masih banyak, kan?”
tanyanya menunggu pembelaan.
Semua mata beralih.
Nasrul menelan ludah. Bayangan pagi tadi muncul
lagi kepakan panik, bulu yang lengket, mata kecil yang liar ketakutan.
“Masih ada,” katanya pelan. “Tapi… tidak seramai
dulu.”
“Artinya masih cukup,” potong Pak Darso cepat.
Nasrul menggeleng.
“Dulu, sekali pasang pulut bisa lima atau enam dalam satu pohon. Sekarang…
harus pindah-pindah.”
Ruangan hening.
“Kenapa pindah-pindah?” tanya Pak Heru.
“Karena jalur lama sepi,” jawab Nasrul. “Burung
seperti belajar. Atau… mungkin memang sudah berkurang.”
Agung Budi Satrio, Ketua Lembaga Desa Pengelola
Hutan (LDPH) Mugi Lestari menambahkan, “Pulut bukan hanya menangkap yang
ditargetkan. Anak burung, bahkan jenis dilindungi, bisa kena. Banyak yang mati
karena stres atau sayapnya rusak. Sebaiknya hutan kami tidak ada lagi praktik
perburuan satwa liar.” Tegas Pak Budi.
Nasrul merasa seperti sedang ditelanjangi.
Berapa yang mati di tanganku? pikirnya.
Berapa yang tak sempat terjual karena sayapnya sobek waktu dilepas dari
pulut?
Pak Darso bersuara lagi, lebih keras.
“Kalau kita dilarang total, siapa ganti rugi? Wisata? Itu cuma mimpi.”
Pak Heru memandang Nasrul.
“Kalau bukan berburu, apa ada alternatif?”
Pertanyaan itu menggantung berat.
Nasrul teringat obrolan singkatnya dengan seorang
pengamat burung dari kota beberapa bulan lalu. Orang itu datang membawa kamera
mahal dan teropong besar.
“Kamu tahu jalur burung paling aktif?” tanya si
tamu waktu itu.
Nasrul mengangguk.
“Kalau kamu mau, jadi pemandu saja. Saya bayar lebih mahal dari harga dua ekor
burung.”
Saat itu Nasrul tertawa. Ia mengira hanya candaan.
Kini, tawaran itu terasa seperti pintu kecil yang
terbuka.
“Ada,” kata Nasrul pelan namun tegas. “Pengamatan
burung. Banyak yang mau datang lihat burung di habitat aslinya. Mereka butuh
pemandu yang paham hutan.”
Pak Darso mendecak.
“Itu belum tentu rutin.”
“Berburu juga makin tak tentu,” balas Nasrul,
suaranya naik sedikit. “Kalau burung habis, selesai. Kita bukan cuma kehilangan
uang, tapi juga peluang.”
Ia berdiri, tanpa sadar.
“Saya pemburu pulut. Saya tahu rasanya menunggu
kepakan itu. Tapi saya juga lihat sendiri makin sedikit yang datang. Kalau kita
atur zona perlindungan, larang pulut di blok tertentu, dan coba wisata,
setidaknya kita beri kesempatan hutan pulih.”
Ucup yang duduk di belakang berbisik, “Kamu serius,
Rul?”
Nasrul tak menoleh.
“Serius.”
Dilema itu seperti simpul yang akhirnya terurai. Ia
tahu keputusannya bisa membuatnya kehilangan sebagian penghasilan. Tapi untuk
pertama kalinya, ia merasa tidak sedang melawan nuraninya.
Pak Heru mengetuk meja.
“Baik. Kita tetapkan larangan perburuan satwa liar di Desa Melung melalui KPAD
yang kita sepakati. Sekaligus kita bentuk Kelompok Pemandu Wisata Burung Desa
Melung.”
“Siapa yang pimpin?” tanya seseorang.
Pak Heru tersenyum tipis.
“Nasrul.”
Jantungnya berdebar keras. Ini bukan lagi sekadar
wacana.
Nasrul menarik napas dalam.
“Saya bersedia. Tapi kita jalani bersama. Jangan cuma saya yang berubah.”
Pak Darso terdiam lama. Lalu ia menghela napas
berat.
“Kalau memang ada jalan supaya hutan tetap hidup dan kita tetap makan… saya mau
lihat dulu hasilnya.”
Beberapa minggu kemudian, Nasrul kembali ke blok Curug
Penganten. Pagi masih berkabut. Di tangannya bukan lagi bambu berpulut,
melainkan teropong.
Di pohon damar yang sama, seekor cicak gunung
hinggap bebas, meloncat ringan dari ranting ke ranting tanpa lengket, tanpa
jaring.
Di sampingnya, dua tamu dari kota menahan napas
kagum.
“Itu dia?” bisik salah satu dari mereka.
Nasrul tersenyum kecil.
“Iya. Dengarkan suaranya. Itu khas Melung.”
Burung itu berkicau panjang, seperti mengisi ulang
hutan dengan harapan.
Nasrul merasakan sesuatu yang berbeda di dadanya.
Bukan lagi degup tegang menunggu tangkapan, melainkan ketenangan menyaksikan
kehidupan berjalan tanpa perlu ia renggut.
Pulut dan jaring masih tersimpan di sudut rumahnya sebagai
pengingat masa lalu. Tapi pagi itu, di bawah cahaya matahari yang menembus
kabut, Nasrul tahu ia telah memilih jalan baru.
Di Hutan Desa Melung, burung-burung kembali
bernyanyi. Dan untuk pertama kalinya, Nasrul mendengarkan tanpa niat
membungkamnya.
Penulis:
@ajipanjalu
Cerita ini hanya fiksi belaka.
Jika ada kesamaan nama ataupun tempat, itu hanya kebetulan saja.